Muslim(Orang Islam) yang tidak mempercayai adanya kitab-kitab Allah swt maka dinamakan murtad (keluar dari ajaran Islam). Beriman kepada kitab Allah swt merupakan rukun iman yang ketiga. Mengimani kitab Allah swt berarti kita harus mempercayai dan mengamalkan segala sesuatu yang terkandung di dalam kitab tersebut.
Apaitu kitab-kitab Allah? Zabur, Taurat, Injil dan Al Quran. Berarti orang muslim harus mengimani Zabur, Taurat dan Injil selain tentu saja Al Quran? YA. TETAPI CARANYA BERBEDA. Cara mengimani Zabur, Taurat dan Injil adalah PERCAYA KEBERADAANNYA, percaya bahwa semua kitab itu adalah kitab-kitab Allah, NAMUN orang muslim TIDAK DIWAJIBKAN untuk
Dalamhal iman kepada kitab, kita tidak hanya dituntut untuk mengetahui nama-nama kitab yang seluruhnya oleh Allah, tetapi kita harus meyakini dengan sepenuh hati akan adanya kitab-kitab yang diturunkan Allah kepada para nabi pilihan-Nya, mempelajari isinya dan mengamalkan hal-hal yang telah dipelajari dalam kitab- kitab tersebut dalam
Tidaklahmungkin Al-Quran ini dibuat oleh selain Allah; akan tetapi (Al-Quran itu) membenarkan kitab Hanya kepada Allah-lah kembali kamu semuanya, lalu diberitahukan-Nya kepadamu apa yang telah kamu perselisihkan itu, [421] Maksudnya: Al-Quran adalah ukuran untuk menentukan benar tidaknya ayat-ayat yang diturunkan dalam kitab-kitab
Namunberiman kepada Allah bukan hanya dilafazkan dalam hati saja melainkan melalui perbuatan nyata. Berikut ini adalah cara beriman kepada Allah yang harus kita lakukan. Membenarkan berita-berita yang sahih c. Mengimani nama-nama kitab yang tidak disebutkan dalam Al Quran dan hadits. Ada tiga hal yang menjadi sebab perbedaan dalam cara
Vay Tiền Online Chuyển Khoản Ngay. Iman kepada kitab-kitab Allah merupakan salah satu rukun iman yang wajib diimani oleh setiap muslim. Bagaimana cara beriman kepada kitab sebelum AL Quran? Simak pembahasan berikut. Semoga Allah Azza wa Jalla menunjukkan kepada kita aqidah yang Iman kepada Kitab AllahCakupan Iman Kepada Kitab AllahKitab-Kitab Sebelum Al Quran Telah Dimansukh Dihapus Setiap Rasul Memiliki KitabSikap Manusia Terhadap Kitab yang Allah TurunkanMengimani Al Quran dengan BenarFaedah Iman Kepada Kitab AllahUrgensi Iman kepada Kitab AllahIman kepada kitab yang Allah turunkan merupakan salah satu ushul landasan iman dan merupakan rukun iman yang enam. Iman yang dimaksud adalah pembenaran yang disertai keyakinan bahwa kitab-kitab Allah haq dan benar. Kitab-kitab tersebut merupakan kalam Allah Azza wa jalla yang di dalamnya terdapat petunjuk dan cahaya kepada umat yang turun kepadanya kitab tersebut. Diturunkanya kitab merupakan di antara bentuk kasih sayang Allah kepada hambanya karena besarnya kebutuhan hamba terhadap kitab Allah. Akal manusia terbatas, tidak bisa meliputi rincian hal-hal yang dapat memberikan manfaat dan menimbulkan madharat bagi Iman Kepada Kitab AllahIman kepada kitab Allah harus mencakup empat perkara Pertama Mengimani bahwa turunnya kitab-kitab Allah benar-benar dari sisi Allah Ta’ Mengimani nama-nama kitab yang kita ketahui namanya seperti Al Quran yang diturunkan kepada Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam, Taurat yang diturunkan kepada Nabi Musa alaihis salaam, Injil yang diturunkan kepada Nabi Isa alaihis salaam, dan Zabur yang diturunkan kepada Nabi Daud alaihis salaam. Sedangkan yang tidak kita ketahui namanya, kita mengimaninya secara Membenarkan berita-beritanya yang benar, seperti berita mengenai Al Quran, dan berita-berita lain yang tidak diganti atau diubah dari iktab-kitab terdahulu sebelum Al Mengamalkan hukum-hukumnya yang tidak dihapus, serta ridho dan tunduk menerimanya, baik kita mengetahui hikmahnya maupun tidak. Syarh Ushuulil Iman, hal 30Kitab-Kitab Sebelum Al Quran Telah Dimansukh Dihapus Seluruh kitab-kitab terdahulu telah termansukhkan terhapus oleh Al Quran Al Adziim. Allah Ta’ala berfirman,وَأَنزَلْنَآإِلَيْكَ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ مُصَدِّقًا لِّمَا بَيْنَ يَدَيْهِ مِنَ الْكِتَابِ وَمُهَيْمِنًا عَلَيْهِ …{48}“Dan Kami telah turunkan kepadamu Al Qur’an dengan membawa kebenaran, membenarkan apa yang sebelumnya, yaitu kitab-kitab yang diturunkan sebelumnya dan sebagai muhaimin terhadap kitab-kitab yang lain itu…” QS. Al Maidah 48. Maksud “muhaimin” adalah Al Quran sebagai haakim yang memutuskan benar atau tidaknya, ed apa yang terdapat dalam kitab-kitab terdahulu. Berdasarkan hal ini, maka tidak dibolehkan mengamalkan hukum apapun dari hukum-hukum kitab terdahulu, kecuali yang benar dan diakui oleh Al Quran. Syarh Ushuulil Iman, hal 30-31Kitab-kitab terdahulu semuanya mansukh dihapus dengan turunnya Al Quran Al Adziim yang telah Allah jamin keasliannya. Karena Al Quran akan tetap menjadi hujjah bagi semua makhluk sampai hari kiamat kelak. Dan sebagai konsekuensinya, tidak boleh berhukum dengan selain Al Quran dalam kondidi apapun. Sebagaimana yang disebutkan dalam firman Allah ,فَإِن تَنَازَعْتُمْ فِي شَىْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللهِ وَالرَّسُولِ إِن كُنتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللهِ وَالْيَوْمِ اْلأَخِرِ ذَلِكَ خَيْرُُ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلاً {59}“…Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah Al Qur’an dan Rasul sunnahnya, jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama bagimu dan lebih baik akibatnya.” QS. An Nisaa’ 59. Husuulul Ma’muul bi Syarhi Tsalaatsatil Ushuul, hal 33Baca juga Siapakah Ahlul Kitab?Setiap Rasul Memiliki KitabSetiap Rasul memiliki kitab. Dalilnya dalah firman Allah,لَقَدْ أَرْسَلْنَا رُسُلَنَا بِالْبَيِّنَاتِ وَأَنزَلْنَا مَعَهُمُ الْكِتَابَ وَالْمِيزَانَ … {25}“ Sesungguhnya Kami telah mengutus rasul-rasul Kami dengan membawa bukti-bukti yang nyata dan telah Kami turunkan bersama mereka Al Kitab dan neraca keadilan…” QS. Al Hadiid 25Ayat ini menjadi dalil bahwa setiap rasul memiliki kitab, namun kita tidak mengetahui seluruh kitab. Kita hanya mengetahui sebagiannya, seperti shuhuf Ibrahim dan Musa, Taurat, Zabur, Injil, dan Al Quran. Kita mengimani setiap kitab yang diturunkan kepada para rasul. Jika kita tidak mengetahuinya, maka kewajiban kita adalah beriman secara global. Syarh al Aqidah al Washitiyah, hal 40Sikap Manusia Terhadap Kitab yang Allah TurunkanManusia terbagi menjadi tiga golongan dalam menyikapi kitab samawi yang Allah turunkanGolongan pertama Orang-orang yang mendustakan semuanya. Mereka adalah musuh-musuh para rasul dari kalangan orang kafir, orang musyrik, dan ahli kedua Orang-orang mukmin yang beriman terhadap seluruh rasul dan kitab yang diturunkan kepada mereka. Sebagaimana Allah firmankan,ءَامَنَ الرَّسُولُ بِمَآأُنزِلَ إِلَيْهِ مِن رَّبِّهِ وَالْمُؤْمِنُونَ كُلٌّ ءَامَنَ بِاللهِ وَمَلاَئِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ … {285}“Rasul telah beriman kepada Al Qur’an yang diturunkan kepadanya dari Tuhannya, demikian pula orang-orang yang beriman. Semuanya beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya dan rasul-rasul-Nya…” QS. Al Baqoroh 285.Golongan ketiga Orang-orang Yahudi dan Nashrani serta yang mengikuti jalan mereka. Mereka mengatakan,… نُؤْمِنُ بِمَآ أُنزِلَ عَلَيْنَا وَيَكْفُرُونَ بِمَا وَرَآءَهُ وَهُوَ الْحَقُّ مُصَدِّقًا لِّمَا مَعَهُمْ … {91}“…Kami hanya beriman kepada apa yang diturunkan kepada kami”. Dan mereka kafir kepada Al Qur’an yang diturunkan sesudahnya, sedang Al Qur’an itu adalah Kitab yang hak. yang membenarkan apa yang ada pada mereka,,,” QS. Al Baqoroh 91.Mereka beriman terhadap sebagian kitab, namun kufur dengan sebagian yang lain. Allah berfirman tentang mereka, أَفَتُؤْمِنُونَ بِبَعْضِ الْكِتَابِ وَتَكْفُرُونَ بِبَعْضٍ فَمَاجَزَآءُ مَن يَفْعَلُ ذَلِكَ مِنكُمْ إِلاَّ خِزْيُُفيِ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَيَوْمَ الْقِيَامَةِ يُرَدُّونَ إِلىَ أَشَدِّ الْعَذَابِ وَمَا اللَّهُ بِغَافِلٍ عَمَّا تَعْمَلُونَ {85}“ … Apakah kamu beriman kepada sebahagian Al Kitab Taurat dan ingkar terhadap sebahagian yang lain? Tiadalah balasan bagi orang yang berbuat demikian daripadamu, melainkan kenistaan dalam kehidupan dunia, dan pada hari kiamat mereka dikembalikan kepada siksa yang sangat berat. Allah tidak lengah dari apa yang kamu perbuat” QS. Al Baqoroh85.Tidak ragu lagi bahwa beriman dengan sebagian kitab dan kufur dengan sebagian yang lain sama saja dengan kufur terhadap semuanya. Karena keimanan harus mencakup dengan seluruh kitab samawi dan seluruh para rasul, tidak membedakan dan menyelisihi sebagiannya. Allah Ta’ala mencela orang-orang yang membedakan dan menyelisihi kitab, sebagaimana firman-Nya, وَإِنَّ الَّذِينَ اخْتَلَفُوا فِي الْكِتَابِ لَفِي شِقَاقٍ بَعِيدٍ {176}“…dan sesungguhnya orang-orang yang berselisih tentang kebenaran Al Kitab itu, benar-benar dalam penyimpangan yang jauh dari kebenaran” QS. Al Baqoroh176. Al Irsyaad ilaa Shahiihil I’tiqaad, hal 143-144Mengimani Al Quran dengan BenarTermasuk keimanan kepada kitab Allah adalah beriman terhadap Al Quran yang diturunkan kepada Nabi Terakhir, Muhammad shalallahu alaihi wa sallam. Keimanan terhadap Al Quran yang benar sebagaimana diungkapakan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah di dalam kitab beliau al Aqidah al Washitiyah. Beliau mengatakan, “ Termasuk keimanan kepada Allah dan kitab-kitab-Nya yaitu beriman bahwa Al Quran merupakan kalam Allah yang diturunkan dan bukan makhluk. Al Quran berasal dari-Nya dan akan kembali kepada-Nya. Alllah Ta’ala berbicara secara hakiki. Dan sesungguhnya Al Quran yang diturunkan kepada Muhammad merupakan kalam Allah yang hakiki dan bukan kalam selain-Nya. Tidak boleh memutlakkan perkataan bahwa Al Quran merupakan hikayat dari kalam Allah atau merupakan ungkapan ibaroh dari kalam Allah. Bahkan jika manusia membacanya dan menulisnya dalam mushaf bukan berarti menafikan bahwa Al Quran merupakan kalam Allah yang hakiki. Karena kalam hanya disandarkan secara hakiki pada yang pertama kali mengucapkannya bukan kepada yang menyampaikannya kemudian. Al Quran merupakan kalam Allah baik huruf dan maknanya, bukan hanya huruf tanpa makna atau makna tanpa huruf.” matan al Aqidah al WashitiyahFaedah Iman Kepada Kitab AllahIman kepada kitab-kitab Allah akan membuahkan faedah yang agung, di antaranya Pertama Mengetahui perhatian Allah terhadap para hambanya dengan menurunkan kitab kepada setiap kaum sebagai petunjuk bagi Mengetahui hikmah Allah Ta’ala mengenai syariat-syariat-Nya, di mana Allah telah menurunkan syariat untuk setiap kaum yang sesuai dengan kondisi mereka, sebagaimana yang Allah firmankan,… لِكُّلٍّ جَعَلْنَا مِنكُمْ شِرْعَةً وَمِنْهَاجًا … {48}“…Untuk tiap-tiap umat diantara kamu , Kami berikan aturan dan jalan yang terang…” QS. Al Maidah 48.Ketiga Mensyukuri nikmat Allah berupa diturunkanya kitab-kitabsebagai pedoman dan petunjuk, ed. Syarh Ushuulil Iman, hal 31.Demikianlah secara ringkas aqidah ahlussunnah tentang iman kepada kitab suci. Semoga tulisan yang ringkas ini bermanfaat. Wa shallallahu alaa Nabiyyinaa Muhammad wa ala aalihi wa shahbihi wa Rujukan Syarhu Ushuulil Iman, Syaikh Muhammad bin Sholih Al Utsaimin, Penerbit Daarul Qasim, Cetakan pertama, 1419 HAl Irsyaad ilaa Shahiihil I’tiqaad, Syaikh Sholih Al Fauzan, Penerbit Maktabah Salsabiil, Cetakan pertama, tahun al Aaqidah al Washitiyah, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, Kumpulan Ulama, Penerbit Daarul Ibnul Ma’muul bi Syarhi Tsalaatsatil Ushuul, Syaikh Abdullah Al Fauzan, Penerbit Maktabah ar Rusyd, Riyadh, Cetakan pertama, tahun 1422H/2001 juga Ketika Kitab Suci Tak Lagi Dihormati—Penulis Abu Athifah Adika Mianoki Muroja’ah Muhammad Abduh Tuasikal Artikel
Bagaimanakah cara beriman kepada kitab Taurat, Zabur dan Injil? Mungkin pertanyaan ini pernah muncul dibenak Anda. Mengerti dan menaati lima ayat utama Al-Quran soal Kitab Allah dapat membimbing kita kepada hidup kekal. Dua teman kyai saya mengatakan bahwa umat Islam wajib mengimani kitab-kitab Allah, yaitu Taurat, Zabur/Mazmur dan Injil. Mereka menambahkan, bukan saja mengimani, tetapi juga wajib mengetahui isinya. Al-Quran mengakui bahwa Allah telah mewahyukan Taurat, Zabur dan Injil. Cara Beriman Kepada Kitab Taurat, Zabur dan Injil 1. Al-Quran Taurat Dan Injil Adalah Petunjuk Dan Cahaya “Dan Kami . . . membenarkan kitab yang sebelumnya, yaitu Taurat . . . sedang di dalamnya [kitab Injil] ada petunjuk dan cahaya yang menerangi, dan membenarkan kitab yang sebelumnya, yaitu Kitab Taurat. Dan menjadi petunjuk serta pengajaran untuk orang-orang yang bertakwa” Qs 546. 2. Al-Quran Injil Adalah Pedoman Bagi Pengikutnya “Dan hendaklah orang-orang pengikut Injil, memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah di dalamnya. Barangsiapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang fasik” Qs 547. Pengikut Kristen perlu fokus pada ketaatan kepada Injil. 3. Al-Quran Taurat Adalah Petunjuk Dan Rahmat Bagi Manusia “Kemudian Kami telah memberikan Al-Kitab Taurat kepada Musa untuk . . . menjelaskan segala sesuatu dan sebagai petunjuk dan rahmat, agar mereka beriman bahwa mereka akan menemui Tuhan mereka” Qs 6154. 4. Al-Quran Kitab Taurat dan Injil Adalah Kebenaran Dari Tuhan “Maka jika kamu Muhammad berada dalam keragu-raguan tentang apa yang Kami turunkan kepadamu, maka tanyakanlah kepada orang-orang yang membaca kitab sebelum kamu. . .” Qs 1094. Ayat ini memberi kesan bahwa para Mukmin perlu minta pertolongan dari pengikut Isa untuk mengartikan Kitab Allah. Inilah cara beriman kepada kitab Allah yang ditujukan untuk para Mukmin. 5. Al-Quran Taurat Adalah Petunjuk. Terimalah! “Dan sungguh telah kami anugerahkan Kitab Taurat kepada Musa, maka janganlah engkau Muhammad ragu-ragu menerimanya . . .” Qs 3223. Kitab Allah dan Keselamatan Manusia Tujuan Allah mewahyukan firman-Nya ialah supaya manusia percaya kepada Isa Al-Masih dan beroleh hidup kekal dalam Dia. “Ingatlah juga bahwa . . . mengenal Kitab Suci yang dapat memberi hikmat kepadamu dan menuntun engkau kepada keselamatan oleh iman kepada Kristus Yesus [Isa Al-Masih]” Injil, Surat 2 Timotius 315. Manusia berdosa tidak sanggup menaati semua perintah dan larangan Allah. Amal baik mereka tidaklah sempurna. Karena itulah Isa Al-Masih mengampuni dosa dan menjamin hidup kekal. Jadi lima ayat utama Al-Quran di atas mendorong para Muslim untuk menerima dan mempelajari Taurat dan Injil Allah. “. . . supaya . . . percaya, bahwa Yesuslah Mesias [Isa Al-Masih] . . . dan supaya . . . oleh imanmu memperoleh hidup dalam nama-Nya ” Injil, Rasul Besar Yohanes 2031. [Staf Isa dan Islam – Bagi Anda yang ingin mengetahui lebih jelas isi kitab Allah, silakan mengunduh app untuk smartphone Anda dari atau Artikel Terkait Berikut ini link-link yang berhubungan dengan artikel “ Jika Anda berminat, silahkan klik pada link-link berikut Petunjuk Allah Dalam Al-Quran, Taurat, Dan Injil Apakah Benar Taurat Dan Injil Yang Sekarang Tidak Murni? Teman Muslim Al-Quran Berbeda Dari Kitab Taurat, Zabur, Dan Injil Al-Quran Mewajibkan Muslim Percaya Akan Kitab Taurat Penolakan Mukmin Akan Kitab Allah Fokus Pertanyaan Untuk Dijawab Pembaca Staf IDI berharap Pembaca hanya memberi komentar yang menanggapi salah satu pertanyaan berikut Ayat-ayat Al-Quran memberi petunjuk cara beriman kepada kitab Taurat, Zabur dan Injil, bagaimanakah sikap kita seharusnya terhadap Taurat dan Injil? Jelaskan jawabanmu! Apakah Anda pernah membaca Kitab Taurat, Kitab Para Nabi dan Injil? Kalau tidak, mengapa? Kalau sudah, apa Kesannya? Mengapa, menurut pandangan Anda, nabi Islam dan Al-Quran memberi penghargaan begitu tinggi pada Kitab Allah, yaitu Taurat, Nabi-nabi dan Injil? Komentar yang tidak berhubungan dengan tiga pertanyaan di atas, walaupun dari Kristen maupun Islam, maaf bila terpaksa kami hapus. Untuk menolong para pembaca, kami memberi tanda ***** pada komentar-komentar yang kami rasa terbaik dan paling menolong mengerti artikel di atas. Bila bersedia, silakan juga mendaftar untuk buletin mingguan, “Isa, Islam dan Al-Fatihah.” Apabila Anda memiliki tanggapan atau pertanyaan atas artikel ini, silakan menghubungi kami dengan cara klik link ini. atau SMS ke 0812-8100-0718
Al-Quran mengakui bahwa Allah telah mewahyukan Taurat, Zabur, dan Injil. Mengerti dan menaati lima ayat utama Al-Quran tentang Kitab Allah dapat membimbing kita kepada hidup kekal. Apa saja lima ayat Al-Quran itu? Infografik berikut menjelaskan tentang bagaimana lima ayat utama Al-Quran yang dapat menolong seorang Mukmin mengerti betapa pentingnya membaca dan mempelajari Kitab Allah. Fokus Pertanyaan Untuk Dijawab Pembaca Staf IDI berharap Pembaca hanya memberi komentar yang menanggapi salah satu pertanyaan berikut Setelah membaca penjelasan pada lima ayat di atas, menurut saudara bagaimana seharusnya sikap kita terhadap Taurat, Zabur, dan Injil? Jelaskan alasannya! Pernahkan saudara membaca Taurat, Zabur, dan Injil? Kalau tidak, mengapa? Kalau sudah, bagaimana kesan saudara! Menurut saudara mengapa Al-Quran memberi penghargaan begitu tinggi pada Kitab Allah, yaitu Taurat, Zabur, dan Injil? Komentar yang tidak berhubungan dengan tiga pertanyaan di atas, walaupun dari Kristen maupun Islam, maaf bila terpaksa kami hapus. Artikel Terkait Berikut ini link-link yang berhubungan dengan artikel di atas. Jika Anda berminat, silakan klik pada link-link berikut Penolakan Mukmin Akan Kitab Allah Al-Quran Mewajibkan Muslim Percaya akan Kitab Taurat Petunjuk Allah dalam Al-Quran, Taurat, dan Injil Video Mengapa umat Nasrani Memilih Alkitab dan Bukan Kitab Lain? Untuk menolong para pembaca, kami memberi tanda ***** pada komentar-komentar yang kami rasa terbaik dan paling menolong mengerti artikel di atas. Bila bersedia, silakan juga mendaftar untuk buletin mingguan, “Isa, Islam dan Al-Fatihah.”Apabila Anda memiliki tanggapan atau pertanyaan atas artikel ini, silakan menghubungi kami dengan cara klik link ini. atau SMS/WA ke 0812-8100-0718
Rukun iman menjadi salah satu pondasi penting dalam agama Islam. Dalam beragama, keimanan merupakan dasar dari segala perilaku manusia. Mengutip kitab At-Takrifat karya Syekh Al-Jurjani, iman sendiri memiliki pengertian membenarkan dalam hati. Sementara dalam syariat, iman berarti meyakini dengan hati dan mengikrarkan dengan lisan. Pengertian tersebut sejalan dengan yang dijelaskan dalam kitab Al-Fashlu fil Milal karya Ibnu Hazm Al-Andalusi Al-Qurthubi, dalam keimanan keyakinan hati dan pengakuan lisan itu harus berlangsung secara bersamaan. Rukun iman sendiri terdiri dalam enam perkara yang wajib diyakini, diucapkan dengan lisan, dan diamalkan dalam kehidupan sehari-hari. Penjelasan tersebut tertuang dalam firman Allah surat An Nisa ayat 136 berikut يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا آمِنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ وَالْكِتَابِ الَّذِي نَزَّلَ عَلَىٰ رَسُولِهِ وَالْكِتَابِ الَّذِي أَنْزَلَ مِنْ قَبْلُ ۚ وَمَنْ يَكْفُرْ بِاللَّهِ وَمَلَائِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَقَدْ ضَلَّ ضَلَالًا بَعِيدًا Artinya "Hai orang-orang yang beriman, tetaplah beriman kepada Allah, Rasul-Nya dan kepada kitab Al Quran yang Allah turunkan kepada Rasul-Nya serta kitab yang Allah turunkan sebelumnya. Barangsiapa yang kafir kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, dan hari kemudian, maka sesungguhnya orang itu telah sesat sejauh-jauhnya." Enam rukun iman Berikut ini merupakan enam rukun iman dalam Islam beserta penjelasannya. 1. Iman kepada Allah Rukun iman yang paling pertama dan utama adalah iman kepada Allah, yaitu meyakini dan mempercayai bahwa tidak ada Tuhan selain Allah, serta meyakini bahwa Allah yang telah menciptakan seluruh alam semesta dan segala kehidupannya 2. Iman kepada malaikat Mengimani malaikat artinya mengimani wujud dan penciptaan-Nya. Meskipun berwujud gaib, seorang muslim harus mempercayai dan mengimani keberadaan malaikat. Ada banyak malaikat yang Allah ciptakan, namun hanya 10 malaikat yang harus ketahui oleh seorang muslim yakni malaikat Jibril, Mikail, Israfil, Izrail, Munkar, Nakir, Raqib, Atid, Malik, dan Ridwan. Selain itu kita juga diminta untuk mengimani sifat-sifat malaikat yang senantiasa patuh dan tunduk kepada Allah seperti yang dijelaskan dalam surat Al Anbiya ayat 19 berikut وَلَهٗ مَنْ فِى السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِۗ وَمَنْ عِنْدَهٗ لَا يَسْتَكْبِرُوْنَ عَنْ عِبَادَتِهٖ وَلَا يَسْتَحْسِرُوْنَ ۚ Wa lahụ man fis-samāwāti wal-arḍ, wa man 'indahụ lā yastakbirụna 'an 'ibādatihī wa lā yastaḥsirụn. Artinya "Dan milik-Nya siapa yang di langit dan di bumi. Dan malaikat-malaikat yang di sisi-Nya, tidak mempunyai rasa angkuh untuk menyembah-Nya dan tidak pula merasa letih." 3. Iman kepada kitab-kitab Allah Rukun iman yang ketiga adalah kepada kitab-kitab Allah. Hal ini berarti bahwa umat Islam wajib meyakini dan mempercayai keberadaan kitab-kitab yang diturunkan Allah SWT. Selain mengimani Al-Quran sebagai pedoman hidup, Allah juga memerintahkan umat-Nya untuk meyakini kitab sebelum al-Quran seperti Taurat, Zabur, dan Injil. Penjelasan tersebut tertuang dalam surat Ali Imran ayat 3 berikut ini نَزَّلَ عَلَيۡكَ الۡـكِتٰبَ بِالۡحَقِّ مُصَدِّقًا لِّمَا بَيۡنَ يَدَيۡهِ وَاَنۡزَلَ التَّوۡرٰٮةَ وَالۡاِنۡجِيۡلَۙ Nazzala 'alaikal Kitaaba bilhaqqi musaddiqal limaa baina yadaihi wa anzalat Tawraata wal Injiil. Artinya “Dia menurunkan Kitab Al-Qur'an kepadamu Muhammad yang mengandung kebenaran, membenarkan kitab-kitab sebelumnya, dan menurunkan Taurat dan Injil.” 4. Iman kepada Rasul Rukun yang keempat, umat Islam wajib mengimani rasul-rasul Allah. Rasul sendiri adalah seorang yang diutus oleh Allah untuk memberikan kabar kebenaran kepada Manusia. Allah menjelaskan keberadaan rasul dalam surah Ar Ra'd ayat 38 berikut ini وَلَقَدۡ اَرۡسَلۡنَا رُسُلًا مِّنۡ قَبۡلِكَ وَ جَعَلۡنَا لَهُمۡ اَزۡوَاجًا وَّذُرِّيَّةً ؕ وَمَا كَانَ لِرَسُوۡلٍ اَنۡ يَّاۡتِىَ بِاٰيَةٍ اِلَّا بِاِذۡنِ اللّٰهِ ؕ لِكُلِّ اَجَلٍ كِتَابٌ Wa laqad arsalnaa Rusulam min qablika wa ja'alnaa lahum azwaajanw wa zurriyyah; wa maa kaana lirasuulin ai yaatiya bi aayatin illaa bi iznil laah; likulli ajalin kitaab. Artinya “Dan sungguh, Kami telah mengutus beberapa rasul sebelum engkau Muhammad dan Kami berikan kepada mereka istri-istri dan keturunan. Tidak ada hak bagi seorang rasul mendatangkan sesuatu bukti mukjizat melainkan dengan izin Allah. Untuk setiap masa ada Kitab tertentu.” 5. Iman kepada hari akhir kiamat Dalam ajaran islam seorang muslim diwajibkan untuk mengimani adanya hari akhir. Hal tersebut berarti bahwa seorang muslim harus meyakini dan mempercayai bahwa hari itu pasti akan datang, dan hanya Allah SWT yang mengetahui kapan hari akhir itu akan datang. Penjelasan ini termaktub dalam surat Al A'raf ayat 187 يَسۡـَٔـــلُوۡنَكَ عَنِ السَّاعَةِ اَيَّانَ مُرۡسٰٮهَا ؕ قُلۡ اِنَّمَا عِلۡمُهَا عِنۡدَ رَبِّىۡ ۚ لَا يُجَلِّيۡهَا لِوَقۡتِهَاۤ اِلَّا هُوَۘ ؕ ثَقُلَتۡ فِى السَّمٰوٰتِ وَالۡاَرۡضِؕ لَا تَاۡتِيۡكُمۡ اِلَّا بَغۡتَةً ؕ يَسۡـــَٔلُوۡنَكَ كَاَنَّكَ حَفِىٌّ عَنۡهَا ؕ قُلۡ اِنَّمَا عِلۡمُهَا عِنۡدَ اللّٰهِ وَلٰـكِنَّ اَكۡثَرَ النَّاسِ لَا يَعۡلَمُوۡنَ Yas'aluunaka 'anis Saa'ati aiyaana mursaahaa qul innamaa 'ilmuhaa 'inda Rabbii laa yujallaiihaa liwaqtihaaa illaa Huu; saqulat fis samaawaati wal ard; laa taatiikum illaa baghtah; yas'aluunaka ka annaka hafiyyun 'anhaa qul innamaa 'ilmuhaa 'indal laahi wa. Artinya “Mereka menanyakan kepadamu Muhammad tentang Kiamat, "Kapan terjadi?" Katakanlah, "Sesungguhnya pengetahuan tentang Kiamat itu ada pada Tuhanku; tidak ada seorangpun yang dapat menjelaskan waktu terjadinya selain Dia. Kiamat itu sangat berat huru-haranya bagi makhluk yang di langit dan di bumi, tidak akan datang kepadamu kecuali secara tiba-tiba." Mereka bertanya kepadamu seakan-akan engkau mengetahuinya. Katakanlah Muhammad, "Sesungguhnya pengetahuan tentang hari Kiamat ada pada Allah, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui." 6. Iman qada dan kadar Takdir Rukun Iman yang keenam dan yang terakhir adalah iman akan ketetapan qada dan takdir kadar Allah. Dalam penjelasan lain, qada adalah rencana dan kadar adalah perwujudan atau kenyataan. Adanya qada dan kadar dijelaskan dalam Al Quran surah Al Ahzab ayat 38 berikut مَّا كَانَ عَلَى ٱلنَّبِىِّ مِنْ حَرَجٍ فِيمَا فَرَضَ ٱللَّهُ لَهُۥ ۖ سُنَّةَ ٱللَّهِ فِى ٱلَّذِينَ خَلَوْا۟ مِن قَبْلُ ۚ وَكَانَ أَمْرُ ٱللَّهِ قَدَرًا مَّقْدُورًا Mā kāna 'alan-nabiyyi min ḥarajin fīmā faraḍallāhu lah, sunnatallāhi fillażīna khalau ming qabl, wa kāna amrullāhi qadaram maqdụrā. Artinya "Tidak ada suatu keberatanpun atas Nabi tentang apa yang telah ditetapkan Allah baginya. Allah telah menetapkan yang demikian sebagai sunah-Nya pada nabi-nabi yang telah berlalu dahulu. Dan adalah ketetapan Allah itu suatu ketetapan yang pasti berlaku."
Keimanan yang hakiki bukanlah sebuah simbol semata, namun keimanan yang hakiki adalah meyakini secara pasti dan membenarkan secara sempurna dengan hati, kemudian mengikrarkannya secara terbuka dengan lisan sehingga perkataannya tersebut menjadi juru bicara terhadap yang bersemayam di dalam hati. Yang demikian itu berdasarkan pada firman-Nya قُولُوا آمَنَّا بِاللَّهِ وَمَا أُنْزِلَ إِلَيْنَا وَمَا أُنْزِلَ إِلَىٰ إِبْرَاهِيمَ وَإِسْمَاعِيلَ وَإِسْحَاقَ وَيَعْقُوبَ وَالْأَسْبَاطِ “Katakanlah hai orang-orang mukmin “Kami beriman kepada Allah dan apa yang diturunkan kepada kami, dan apa yang diturunkan kepada Ibrahim, Isma’il, Ishaq, Ya’qub dan anak cucunya…”. QS. Al-Baqarah 136. Ini adalah sebuah perintah yang jelas agar kaum mu’minin mengatakan kami beriman dan membenarkan Allah ta’ala. Kedua perkara tersebut yakni meyakini di dalam hati dan mengikrarkannya dengan lisan terpisah secara zhahir berdasarkan firman Allah ta’ala قَالَتِ الْأَعْرَابُ آمَنَّا ۖ قُلْ لَمْ تُؤْمِنُوا وَلَٰكِنْ قُولُوا أَسْلَمْنَا وَلَمَّا يَدْخُلِ الْإِيمَانُ فِي قُلُوبِكُمْ “Orang-orang Arab Badui itu berkata “Kami telah beriman”. Katakanlah “Kamu belum beriman, tapi katakanlah kami telah Islam tunduk’, karena iman itu belum masuk ke dalam hatimu…” QS. Al-Hujurat 14. Ayat – ayat tersebut menunjukkan bahwa terdapat perbedaan antara meyakini di dalam hati dan mengucapkannya dengan lisan. Apabila ditemui ada yang mengucapkan dengan lisan tanpa membenarkan dengan hati, maka tidaklah ia disebut sebagai beriman. Sunnah nabawiyah menegaskan hal ini dengan sabda Rasulullah shallallahu alaihi wasallam yang diriwayatkan oleh Muslim dari Abu Hurairah َ أُمِرْتُ أَنْ أُقَاتِلَ النَّاسَ حَتَّى يَشْهَدُوا أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَيُؤْمِنُوا بِي وَبِمَا جِئْتُ بِهِ فَإِذَا فَعَلُوا ذَلِكَ عَصَمُوا مِنِّي دِمَاءَهُمْ وَأَمْوَالَهُمْ إِلَّا بِحَقِّهَا وَحِسَابُهُمْ عَلَى اللَّهِ “Aku diperintahkan untuk memerangi manusia yakni kaum musyrik Arab penyembah berhala hingga mereka bersaksi bahwa tidak ada tuhan yang berhak disembah melainkan Allah dan beriman kepadaku serta dengan al-Qur’an yang aku bawa, maka apabila mereka mengucapkan hal tersebut maka sungguh dia telah menjaga harta dan jiwanya dari ku kecuali disebabkan hak Islam. Dan hisab mereka diserahkan kepada Allah.” Hadits ini menunjukkan atas wajibnya menggabungkan antara syahadah dan deklarasi lisan dengan keimanan di dalam hati. Hadits yang diriwayatkan oleh an-Nasa’i, al-Baihaqiy, dan yang lainnya berikut ini memperjelas hal tersebut. Dari Anas bin Malik, dari Mu’adz bin Jabal bahwasanya Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda مَنْ مَاتَ وَهُوَ يَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ صَادِقًا مِنْ قَلْبِهِ دَخَلَ الْجَنَّةَ “Barangsiapa meninggal dunia sementara ia bersaksi bahwa tidak ada Ilah yang haq selain Allah dan sesungguhnya Muhammad adalah utusan Allah tulus dari hati maka ia masuk surga.” Imam Ahmad meriwayatkan secara marfu’ dari Anas bin Malik, beliau berkata, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda َلَا يَسْتَقِيمُ إِيمَانُ عَبْدٍ حَتَّى يَسْتَقِيمَ قَلْبُهُ وَلَا يَسْتَقِيمُ قَلْبُهُ حَتَّى يَسْتَقِيمَ لِسَانُهُ “Iman seorang hamba tidak bakalan lurus hingga lurus hatinya dan hati tidak bakalan lurus hingga lurus lisannya”. Penggabungan antara pembenaran di dalam hati dengan mendeklarasikan dua kalimat syahadat pada lisan akan dapat menyelamatkan manusia dari api neraka. Ia tidak akan kekal abadi di dalam neraka apabila ia adalah hamba yang bermaksiat, dan tidak akan disentuh oleh api neraka apabila ia adalah hamba yang taat. Hal ini sebagaimana yang diriwayatkan oleh Ibnu Mardawaih, at-Thabrani di dalam al-Kabiir, dan al-Khatib al-Baghdadiy dari Abu Qatadah beliau berkata Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda من شهدان لا اله الا الله وان محمدا رسول الله فذل بهالسانه واطمأن بها قلبه لم تطعمه النار “Barang siapa yang bersaksi bahwasanya tiada tuhan selain Allah dan bahwasanya Muhammad utusan Allah, lisannya mengucapkannya dengan mudah dan hatinya tenang terhadapnya, api neraka tidak akan memakannya.” Salah satu perkataan yang terpilih dari Mujahid yang merupakan Tabi’in berkaitan dengan masalah ini adalah yang diriwayatkan oleh Abu Ya’la darinya bahwasanya beliau berkata memgenai firman-Nya إِلَّا مَنْ شَهِدَ بِالْحَقِّ وَهُمْ يَعْلَمُونَ “Akan tetapi orang yang mengakui yang hak tauhid dan mereka meyakininya.” QS. Az-Zukhruf 86. “Mengakui yang hak” adalah mengetahui bahwasanya Allah adalah Rabb-Nya. Menghubungkan antara meyakini dengan hati, yaitu iman, dan ikrar dengan lisan, yaitu Islam, adalah wajib menurut ketentuan syariat Allah dan agamanya. Maka barang siapa yang hatinya tidak meyakini dengan keyakinan yang pasti bahwa Allah adalah Rabbnya, Muhammad adalah Rasul-Nya, maka ia bukanlah seorang mu’min. Demikian pula barangsiapa yang melafadzkan dua kalimat syahadat secara zhahir tanpa membenarkan di dalam hati, sebagaimana kondisinya orang – orang munafik, maka ia bukanlah seorang mu’min dan bahkan bukan seorang muslim yang sesungguhnya. Maka barangsiapa yang menggabungkan iman di dalam hati dan mendeklarasikannya dengan lisan maka ia adalah seorang mu’min dan muslim. Iman dan Islam adalah pondasi agama, karena iman adalah membenarkan dan Islam adalah tunduk dan patuh kepada Allah azza wa jalla. Imam Muslim meriwayatkan bahwasanya Rasulullah shallallahu alaihi wasallam pernah ditanya mengenai iman pada suatu waktu, beliau menjawab َ أَنْ تُؤْمِنَ بِاللَّهِ وَمَلَائِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَتُؤْمِنَ بِالْقَدَرِ خَيْرِهِ وَشَرِّهِ “Kamu beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, para Rasul-Nya, hari akhir, dan takdir baik dan buruk.” Beliau juga ditanya mengenai Islam, beliau menjawab الْإِسْلَامُ أَنْ تَشْهَدَ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَتُقِيمَ الصَّلَاةَ وَتُؤْتِيَ الزَّكَاةَ وَتَصُومَ رَمَضَانَ وَتَحُجَّ الْبَيْتَ إِنْ اسْتَطَعْتَ إِلَيْهِ سَبِيلًا “Kesaksian bahwa tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Allah dan bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya, mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan puasa Ramadhan, serta haji ke Baitullah jika kamu mampu bepergian kepadanya.”. Sebagaimana sudah seharusnya bagi seorang mu’min untuk menggabungkan antara ketundukan hati serta membenarkan di dalam hati secara sempurna, dengan mendeklarasikan dua kalimat syahadat melalui lisan, maka sudah seharusnya juga baginya untuk menjadikan iman dalam hatinya sempurna dengan mengimani Allah, malaikat – malaikat-Nya, kitab – kitab-Nya, Rasul – Rasul-Nya, hari akhir, dan takdir baik maupun buruknya. Demikian pula sebagaimana sempurnanya iman, maka sudah seharusnya juga untuk mempraktekkan rukun – rukun Islam yakni bersaksi bahwa tiada tuhan selain Allah dan Muhammad utusan Allah, mendirikan sholat, menunaikan zakat, puasa Ramadhan, dan berhaji bagi yang mampu. Dengan ini semua, maka menjadi jelas dan nampak keadaan kaum muslimin secara umum pada setiap zaman. Kebanyakan dari mereka berkata sesungguhnya mereka mengimani dan membenarkan enam rukun iman, namun mereka berbeda – beda dalam hal ketaatan. Di antara mereka ada yang tidak sholat, tidak berpuasa, tidak berhaji, dan tidak berzakat. Di antara mereka ada juga yang hanya puasa saja dan melalaikan rukun – rukun Islam yang lain. Di antara mereka juga ada yang sholat, puasa, dan haji saja karena perkara itu merupakan perkara yang mudah untuk dipraktekkan dan diterapkan seperti tidak ada beban taklif yang lain saja baginya, namun ia mengabaikan menunaikan zakat mal dari pertaniannya, perdagangannya, peternakannya, atau kekayaan uangnya. Mereka itu semua adalah orang – orang yang melalaikan ketaatan kepada Allah. Mereka durhaka dan berdosa karena menelantarkan satu atau lebih dari kewajiban – kewajiban agama Islam. Mereka akan ditanya di hadapan Allah atas penelantaran dan pendurhakaan perintah – perintah Rabb mereka. Wallahu alam bi as-shawab. Rujukan Dr. Wahbah Zuhailiy. Ushul al-Iman wa al-Islam.
mengimani kitab allah tidaklah hanya membenarkan dalam hati tetapi harus